Beranda | Artikel
Muqaddimah Kajian Kitab Thariq al-Hijratain wa Bab as-Saadain (Jalan Kebahagiaan)
2 hari lalu

Muqaddimah Kajian Kitab Thariq al-Hijratain wa Bab as-Sa’adain (Jalan Kebahagiaan) merupakan kajian Islam yang disampaikan oleh: Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Thariq al-Hijratain wa Bab as-Sa’adain (Jalan Kebahagiaan). Kajian ini disampaikan pada Jumat, 25 Muharram 1448 H / 10 Juli 2026 M.

Kajian Tentang Muqaddimah Kajian Kitab Thariq al-Hijratain wa Bab as-Sa’adain (Jalan Kebahagiaan)

Dalam berbagai karya ilmiahnya, beliau membahas tazkiyatun nafs dengan bahasa yang jelas, sistematis, dan indah. Uraian beliau menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang keadaan hati dan jiwa.

Beliau juga memiliki keahlian dalam pengobatan fisik, sehingga memahami pula pengobatan psikis dan jiwa. Karena itu, karya-karya beliau dalam tema ini merupakan rujukan yang perlu diperhatikan.

Hal ini semakin penting pada zaman sekarang, ketika hati banyak ternodai, jiwa banyak dikotori, dan manusia semakin lalai dari persiapan akhirat. Keadaan tersebut membuat hidup dipenuhi kebingungan, kebimbangan, kegalauan, dan kegelisahan.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta’ala adalah Abu Abdillah Syamsuddin Muhammad bin Abi Bakar, yang dikenal dengan Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Beliau lahir pada tahun 691 Hijriah dan wafat pada tahun 751 Hijriah. Beliau termasuk murid senior Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala.

Tema Jalan Kebahagiaan

Pada kesempatan ini, pembahasan diarahkan kepada tema jalan kebahagiaan. Semua manusia menginginkan kebahagiaan, meskipun berbeda dalam memahami konsepnya dan berbeda pula dalam menempuh sarana, media, atau jalan yang dianggap dapat mewujudkannya.

Sebagian orang mencari kebahagiaan dengan mengumpulkan harta. Sebagian berambisi meraih takhta, kedudukan, pangkat, dan jabatan. Ada pula yang mencarinya dengan memperbanyak keturunan, memperbanyak keahlian dalam berbagai disiplin ilmu, atau mengejar popularitas di tengah manusia.

Semua hal tersebut belum tentu mewujudkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Hakikat kebahagiaan yang dicari manusia, konsep kebahagiaan dalam pandangan Islam, dan cara mewujudkannya sebagai hamba Allah akan menjadi pokok pembahasan. Status sebagai hamba, abdun lillah, senantiasa melekat pada diri manusia.

Sumber Pembahasan Jalan Kebahagiaan

Pembahasan tentang jalan kebahagiaan ini disadur dari Kitab Thariqul Hijrataini wa Babul Sa’adataini (طريق الهجرتين وباب السعادتين) karya Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu ta’ala. Secara umum, judul tersebut berarti “Jalan Dua Hijrah dan Pintu Dua Kebahagiaan”.

Kitab ini membahas konsep kebahagiaan dalam perspektif Al-Qur’an dan hadits, diperkaya dengan nukilan serta kutipan dari para ulama salaf yang menjelaskan hakikat kebahagiaan.

Mukadimah Kitab dan Cara Pembahasan

Sebagaimana kebiasaan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam muqadimah karya-karya beliau, beliau menjelaskan tujuan penulisan kitab, metodologi, substansi pembahasan, serta hal yang ingin diraih melalui karya tersebut.

Dengan bahasa sastra yang tinggi, Imam Ibnul Qayyim membuka mukadimahnya dengan menjelaskan bahwa segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah memperlihatkan tanda-tanda rububiyah dan keesaan-Nya di alam semesta.

Barang siapa bersaksi dan meyakini keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, berpegang pada tauhid, serta tidak menyimpang darinya, Allah akan memberikan solusi atas segala hal yang dihadapinya dan kelapangan dalam setiap kesempitan yang dirasakannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing hamba-hamba-Nya yang menjadi wali-Nya agar senantiasa berpindah dari satu tingkatan ubudiyah menuju tingkatan ubudiyah berikutnya. Bimbingan itu ditempuh dengan kesabaran, tawakal, kembali kepada Allah, berserah diri kepada-Nya, cinta, takut, dan harap.

Seorang hamba yang menjadi wali Allah, bersaksi atas keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mengakui rububiyah-Nya, akan terus dibimbing agar naik tahap demi tahap dalam penghambaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nikmat Allah dan Luasnya Rahmat-Nya

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencurahkan nikmat yang tidak terhitung banyaknya. Allah juga telah menetapkan bagi diri-Nya bahwa rahmat-Nya sangat luas dan rahmat tersebut mendominasi kemurkaan-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mencurahkan berbagai nikmat dan karunia yang tidak terhitung. Allah memudahkan segala yang ada di dunia untuk kelangsungan hidup manusia, baik di daratan maupun di lautan. Allah mengatur matahari dan bulan, pergantian malam dan siang, memancarkan air jernih dari mata air, serta menggilir cahaya dan kegelapan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para rasul kepada umat manusia dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka. Semua itu merupakan seruan Allah kepada hamba-hamba-Nya agar masuk ke dalam surga-Nya.

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا…

“Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah, Dia akan melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Barang siapa dikehendaki-Nya sesat, Dia menjadikan dadanya sempit lagi sesak.” (QS. Al-An’am [6]: 125)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang yang Allah kehendaki mendapatkan hidayah akan diberi petunjuk dan dilapangkan dadanya untuk menerima Islam. Sebaliknya, orang yang Allah kehendaki tersesat akan dijadikan sempit dan sulit menerima kebenaran.

Al-Qur’an sebagai Pedoman Kebahagiaan

Di antara nikmat yang Allah curahkan kepada hamba-hamba-Nya ialah diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kitab ini menjadi pedoman dalam kehidupan dan panduan dalam liku-liku perjalanan hidup mereka.

Di dalam Al-Qur’an terdapat penjelasan tentang yang halal dan yang haram. Orang-orang beriman yang menerima petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima Al-Qur’an, membacanya, serta mengimani hukum-hukum di dalamnya. Yang halal diyakini kehalalannya, dan yang haram diyakini keharamannya. Mereka tidak mengubah hukum-hukum tersebut.

Orang beriman melaksanakan perintah-perintah yang telah jelas dalam Al-Qur’an dan mengimani segala hal yang belum dipahaminya secara sempurna. Ia meyakini kebenarannya dan senantiasa memberi perhatian kepada Al-Qur’an.

Seorang hamba berpegang teguh kepada Al-Qur’an karena meyakini bahwa Al-Qur’an adalah panduan kebahagiaan dan sebab utama kemuliaannya di sisi Allah.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan sifat Al-Qur’an sebagai dzikir yang mulia, jalan yang lurus, berita yang agung, serta tali Allah yang sangat kuat, yang tersambung antara Allah dan makhluk-Nya. Itulah janji Allah; barang siapa berpegang teguh dengannya akan beruntung dan selamat.

Persaksian Tauhid dan Kesempurnaan Pujian bagi Allah

Dalam muqadimah tersebut, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang menyerupai-Nya, dan Dia tidak memiliki anak maupun istri.

Tidak seorang pun mampu memuji Allah dengan pujian yang mencakup seluruh kesempurnaan-Nya. Cukuplah Allah yang memuji diri-Nya sendiri dengan segala pujian dan kemuliaan.

Semua pujian yang diucapkan hamba untuk memuji dan mengagungkan Allah tetap berada di bawah kemuliaan dan pujian yang layak bagi-Nya. Persaksian tauhid ini akan menumbuhkan keimanan di dalam hati seorang hamba setiap hari, disertai keyakinan terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah, tanpa menyimpang kepada syubhat, kebatilan, atau pemikiran yang menyimpang dalam beriman kepada Allah.

Persaksian atas Kerasulan Nabi Muhammad

Imam Ibnul Qayyim melanjutkan persaksiannya bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul Allah. Beliau adalah manusia terbaik, aminullah ala wahyih, yang diberi kepercayaan oleh Allah untuk menyampaikan wahyu-Nya. Beliau menjadi duta dan perantara antara Allah dan hamba-hamba-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus beliau sebagai rahmat bagi alam semesta, panutan bagi orang-orang yang ingin beramal, penerang bagi orang-orang yang menelusuri jalan kebaikan, dan hujah yang Allah utus kepada seluruh hamba-Nya.

Beliau diutus ketika terjadi kekosongan rasul. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian bangkit menyampaikan dakwah dan petunjuk kepada umat manusia. Melalui beliau, Allah memberi petunjuk kepada manusia menuju jalan terbaik yang terang benderang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan seluruh umat manusia untuk menaati, mencintai, memuliakan, mengagungkan, dan menunaikan hak-hak yang wajib terhadap beliau.

Jalan Surga Melalui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menutup semua jalan menuju surga. Jalan itu tidak dibuka bagi seorang pun kecuali melalui jalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya menjadikan surga sebagai tujuan hidup yang hakiki dan abadi di akhirat. Dunia hanyalah perantara dan jembatan menuju akhirat, bukan tujuan hidup selamanya. Kehidupan yang abadi adalah akhirat, yang berakhir dengan masuk surga atau, wal ‘iyadzu billah, terjerumus ke dalam neraka.

Semua jalan dan sarana menuju surga tertutup. Jalan itu tidak akan dibuka oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali bagi orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mengangkat derajat beliau, mengampuni kesalahan dan dosa-dosa beliau, serta menjadikan kerendahan dan kehinaan bagi orang-orang yang menyelisihi perintah beliau.

Dampak Risalah Rasulullah bagi Umat Manusia

Berkat diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Allah menyelamatkan umat manusia dari kesesatan dan memberi mereka petunjuk. Mereka keluar dari kebodohan, jumlah yang sedikit menjadi banyak dan kuat, kehinaan berubah menjadi kemuliaan bagi orang-orang yang berpegang teguh, dan kefakiran diganti dengan kecukupan serta kekayaan. Kekayaan yang dimaksud lebih dominan pada kekayaan jiwa.

Allah membuka mata mereka setelah kebutaan; bukan hanya mata kepala, tetapi juga mata hati. Allah memberi petunjuk setelah kesesatan. Melalui risalah beliau, Allah membuka mata yang selama ini buta, telinga yang selama ini tuli, dan hati yang selama ini terbelenggu, tertutup, serta terkunci.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, memberi nasihat kepada umat, dan berjihad di jalan Allah dengan jihad yang sesungguhnya. Beliau membuktikan penghambaan kepada Allah hingga datang kematian menjemputnya.

Tidak ada satu pun kebaikan kecuali telah beliau jelaskan kepada umatnya. Tidak ada satu pun kejahatan dan keburukan kecuali telah beliau peringatkan umat darinya. Beliau juga melarang umat mengikuti jalan-jalan yang menjerumuskan kepada kejahatan dan keburukan.

Beliau membuka hati manusia dengan iman dan Al-Qur’an. Hati mereka sebelumnya mati dan terkunci. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang membawa iman dan Al-Qur’an, lalu membuka pintu hati mereka.

Beliau berjihad menghadapi musuh-musuh Allah dengan tangan, hati, dan lisan. Beliau menyeru umat manusia kepada Allah berdasarkan ilmu. Beliau sungguh telah hidup di tengah manusia dengan mengimplementasikan keadilan, kebaikan, dan akhlak yang mulia.

Sirah beliau adalah sebaik-baik sirah dan sebaik-baik cermin kehidupan. Dengan risalah kenabian dan kerasulan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dunia menjadi terang benderang setelah sebelumnya dipenuhi berbagai kegelapan. Beliau menyatukan hati manusia setelah tercerai-berai dan timpang, hingga dakwah beliau sampai ke seluruh pelosok dunia.

Keutamaan Para Sahabat dan Pohon Keimanan

Dengan dakwah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, manusia masuk Islam berbondong-bondong. Mereka menjadi orang-orang pilihan Allah dan manusia termulia setelah para nabi dan rasul.

Mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta menerima ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka adalah para sahabat, kaum Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala menanamkan dalam hati mereka pohon kecintaan, makrifah, dan ketauhidan kepada-Nya. Allah memberi mereka nikmat khusus dan keutamaan melebihi seluruh umat manusia.

Pohon keimanan yang tertanam kuat dalam hati mereka sebagaimana dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah seperti pohon yang baik: akarnya tertancap kuat dan cabangnya menjulang ke langit.

كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ ۝ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا

“Seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu menghasilkan buahnya setiap waktu dengan izin Tuhannya.” (QS. Ibrahim [14]: 24-25)

Pohon keimanan tertanam kuat di dalam tanah hingga menjadi pohon yang kokoh. Cabang, ranting, dan daunnya rindang serta menjulang tinggi ke langit. Pohon itu selalu menghasilkan buah bagi pemiliknya setiap saat.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa itulah perumpamaan pohon keimanan yang tertanam dalam hati dan jiwa orang-orang beriman. Cabangnya berupa perkataan yang baik dan amal shalih yang tampak. Pohon itu senantiasa memberikan buah manis berupa perkataan yang baik dan amal shalih.

Perkataan yang baik dan amal shalih mendatangkan ketenangan serta kebahagiaan bagi pemiliknya. Keduanya juga menghadirkan kesejukan bagi orang yang melihat dan hidup di sekitarnya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barang siapa hatinya tenang dan bahagia dengan Allah, semua orang yang melihatnya akan ikut merasakan kebahagiaan. Apabila seseorang telah merasakan ketenangan bersama Allah, kekhawatiran dan kegelisahan akan hilang dari orang-orang yang melihat, bersua, dan hidup bersamanya.”

Seorang hamba yang keimanannya telah bersemi di dalam hati, jiwanya tenang, cintanya tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta hanya takut dan berharap kepada-Nya, seluruh gerak-geriknya berada dalam bimbingan Allah ‘Azza wa Jalla.

“Apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memegang, dan kakinya yang dengannya ia berjalan.” (HR. Bukhari)

Lihat: Hadits Arbain Ke 38 – Wali Allah Adalah Orang-Orang Yang Beriman dan Bertakwa

Ia mendengar, melihat, memegang, dan melangkahkan kaki dengan bimbingan Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintainya karena ia mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah. Apabila memberi, ia memberi karena Allah. Apabila menahan sesuatu, ia menahannya karena Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi satu-satunya Ilah yang ia ibadahi, tempat ia berharap, takut, dan menumpukan seluruh harapannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi satu-satunya panduan hidup, imam yang menuntun, dan panglima yang mengawal perjalanan hidupnya.

Hamba seperti ini telah merealisasikan tauhid kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadah, kecintaan, harapan, dan rasa takut. Ia menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai panutan, teladan, dan panduan dalam seluruh sisi kehidupan. Akhlaknya mengikuti akhlak Rasulullah, dan ibadahnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dua Hijrah Seorang Mukmin

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa setiap hamba berada dalam perjalanan hijrah. Seorang hamba yang keimanannya telah bersemi dan terpatri di hati, cintanya tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mentauhidkan Allah, dan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, pada dasarnya selalu berada di jalan hijrah pada setiap waktu.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa seorang hamba selalu berada dalam dua hijrah. Hijrah pertama adalah hijrah kepada Allah. Hakikatnya adalah mencari dan mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, menginginkan-Nya, beribadah kepada-Nya, bertawakal, kembali kepada-Nya, berserah diri, menyerahkan seluruh urusan kepada-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, menghadap kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, serta menampakkan kefakiran dan kebutuhan kepada Allah dalam setiap hembusan napas.

Hijrah kedua adalah hijrah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hijrah ini bukan berarti setiap orang harus berpindah dan menetap di Madinah. Hijrah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dilakukan dengan mengikuti beliau dalam seluruh gerak dan diam, lahir maupun batin.

Seluruh aktivitas dan gerak-gerik dalam menjalani hidup diarahkan sebagai hijrah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Caranya adalah menjadikan seluruh aktivitas lahir dan batin sesuai dengan syariat, tuntunan, dan sunnah Rasulullah.

Kesesuaian dengan syariat Rasulullah merupakan perincian tentang segala hal yang dicintai dan diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Untuk mengetahui apa yang dicintai dan diridhai Allah, seorang hamba mengikuti petunjuk dan syariat Rasulullah. Di dalamnya terdapat penjelasan yang rinci dan terang.

Agama selain agama Rasulullah dan syariat beliau tidak diterima. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan bahwa agama yang benar dan diterima di sisi-Nya hanyalah Islam.

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 19)

Islam tersebut adalah agama yang dibawa, diamalkan, dijelaskan, dan diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada umat manusia.

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain Islam, sekali-kali tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 85)

Perhatian utama bukan sekadar menamakan diri sebagai Islam. Pada zaman ini banyak orang menyatakan dirinya Islam, dan hukum lahiriah diberlakukan berdasarkan yang tampak. Namun, hal yang harus menjadi perhatian ialah kesesuaian hidup seseorang dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Hijrah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terwujud dengan mengikuti tuntunan hidup, sunnah, syariat, dan panduan beliau dalam seluruh sisi kehidupan. Seorang hamba tidak mengada-ada, tidak membuat bid’ah, tidak melakukan khurafat dan takhayul, serta tidak mengikuti pemikiran yang menyimpang. Ia mencukupkan diri dengan syariat Rasulullah.

Inilah maksud perkataan Imam Ibnu Qayyim: segala aktivitas, perbuatan, dan gerak-gerik seorang hamba, lahir maupun batin, harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Syariat, sunnah, dan panduan hidup beliau merupakan rincian dari segala yang dicintai dan diridai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Barang siapa mencari selain tuntunan tersebut, Allah tidak akan menerimanya. Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa semua amalan selain tuntunan dan syariat Rasulullah hanya sebatas pemenuhan kebutuhan jiwa serta kenikmatan dunia, bukan bekal menuju negeri akhirat.

Setiap kebiasaan, amalan, dan perkataan yang tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah hanyalah kepuasan jiwa dan kenikmatan sesaat di dunia. Ia bukan persiapan untuk akhirat.

Semua Jalan Tertutup Kecuali Jalan Rasulullah

Imam Ibnul Qayyim menukil perkataan Imam Al-Junaid bin Muhammad. Beliau berkata bahwa semua jalan menuju surga tertutup, kecuali jalan orang yang mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Semua jalan menuju surga, kebahagiaan, dan ridha Allah tertutup, kecuali jalan orang yang mengikuti tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

وَعِزَّتِي وَجَلَالِي، لَوْ أَتَوْنِي مِنْ كُلِّ طَرِيقٍ، وَاسْتَفْتَحُوا مِنْ كُلِّ بَابٍ، لَمَا فَتَحْتُ لَهُمْ حَتَّى يَدْخُلُوا خَلْفَكَ

“Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, seandainya mereka semua datang kepada-Ku dari setiap jalan dan berusaha membuka setiap pintu, Aku tidak akan membukakannya untuk mereka sampai mereka berjalan di belakangmu.”

Jangan mencoba mendahului Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam perjalanan menuju akhirat. Orang yang membuat bid’ah, melakukan khurafat, dan mengikuti keyakinan yang menyimpang dari sunnah pada hakikatnya berusaha mendahului Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk sampai ke surga.

Pintu kebaikan dan pintu surga tidak akan terbuka kecuali bagi orang yang berjalan di belakang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Orang yang tidak mau mengikuti sunnah akan merugi. Kesesatan hanya merugikan orang yang sesat, sedangkan kemuliaan hanya bagi mereka yang dimuliakan dengan izin Allah.

Amalan Tanpa Mutabaah Hanya Kebutuhan Jiwa

Sebagian ahli makrifat berkata bahwa setiap amalan tanpa mengikuti sunnah hanyalah kebutuhan jiwa semata. Ia bukan untuk akhirat dan bukan bekal untuk kehidupan akhirat.

Seseorang menginginkan kebahagiaan, lalu letih di dunia, menghabiskan tenaga, harta, waktu, dan kesempatan untuk beramal. Namun, apabila amal itu tidak sesuai dengan tuntunan Allah dan syariat Rasulullah, amal tersebut tidak bermanfaat sebagai bekal akhirat. Ia hanya memenuhi kebutuhan jiwa di dunia.

Semua amalan tanpa mutabaah kepada sunnah pada dasarnya hanya sebatas memenuhi kebutuhan jiwa, bukan kebutuhan akhirat. Inilah substansi mukadimah Kitab Tariqul Hijratain wa Babus Sa’adatain.

Kebahagiaan Berada dalam Tuntunan Rasulullah

Imam Ibnul Qayyim menyampaikan pesan bahwa apabila kebahagiaan seseorang di dunia dan di akhirat bergantung pada tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka kebahagiaan itu tidak keluar dari apa yang beliau bawa.

Karena itu, sudah sepantasnya orang yang ingin menasihati dirinya dengan benar menjadikan umurnya tercurah untuk mengenal tuntunan tersebut, dan menjadikan keinginannya terbatas pada apa yang dicintai Allah.

Orang yang mencintai dirinya hendaknya menjadikan setiap detik dari kesempatan hidupnya sebagai wakaf untuk mengenal Allah dan Rasul-Nya.

Keinginannya dibatasi pada upaya mengetahui dan menginginkan apa yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hidup ini hendaknya diwakafkan untuk Allah dan Rasul-Nya: untuk mentauhidkan Allah, mempelajari sunnah Rasulullah, dan mengikutinya. Dengan demikian, pintu kebahagiaan akan terbuka luas di hadapan seorang hamba.

Download MP3 Kajian Tentang Muqaddimah Kajian Kitab Thariq al-Hijratain wa Bab as-Sa’adain (Jalan Kebahagiaan)


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56438-muqaddimah-kajian-kitab-thariq-al-hijratain-wa-bab-as-saadain-jalan-kebahagiaan/